Saturday, May 23, 2026

Dari Pekalongan ke Siberut: Petualangan Konservasi dan Budaya mentawai

 

bersama tim menggunakan pompong

oleh : Iman sofiana

Petualangan baru hidup saya kali ini dimulai dari Stasiun Pekalongan,  untuk pertama kali menapakkan kaki menuju tanah Sumatera dan langsung ke bagian terjauhnya yaitu pulau Mentawai. Tujuan utama kami ke pulau Mentawai adalah untuk survei populasi Owa bilou dan primata endemik, Mentawai di Kawasan Taman Nasional Siberut. Bersama dengan staff Swaraowa kami menggunakan kereta api menuju Jakarta. Sampai di Jakarta pada pagi hari, kami langsung bergegas menuju bandara Soekarno-hatta untuk terbang ke Padang. Penerbangan kali ini adalah penerbangan yang pertama pertama bagi saya. Saya merasa campur aduk diantara tegang dan grogi namun juga penasaran bagaimana rasanya terbang. Bingung, mungkin adalah kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya yang masih antusias dengan perjalanan ini.

Rasa tegang seketika sirna ketika datang rasa takjub dan seru ketika saya melihat pemandangan awan dan langit biru beriring dengan getar pesawat saat mengudara. Pengalaman terbang kali pertama ini, tak akan terlupakan untuk saya. Saya cukup terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara pramugari yang khas dan memberitahukan bahwa pesawat segera landing di bandara Internasinonal Minangkabau. Tidak terasa ternyata perjalanan secepat itu, hanya dalam 1 jam 50 menit kami sudah tiba di Padang. Sore hari kali ini saya mengantar tim Swaraowa untuk presentasi di Balai Taman Nasional Siberut yang kami lanjut dengan menginap semalam di Padang karena esok pagi kami harus menyeberang ke pulau Mentawai.

burung tepekong 

Selasa 21 April 2026, kegiatan kami mulai pukul 05.00 pagi untuk bergegas dari hotel menuju ke pelabuhan untuk naik kapal cepat mentawai fast menuju pulau Siberut. Di sini saya juga baru tahu bahwa Mentawai adalah nama gugus kepulauan dan tujuan kami adalah pulau terbesar di gugus tersebut. Ternyata memang berbeda rasanya naik kapal ferry dan kapal cepat. Laju 30 knot dengan angin sepoi di galangan atas terasa sangat cepat laju kapal kami ini. Kebetulan kami menyebrang pada cuaca buruk, sehingga saya pun merasakan guncangan ombak Samudra Hindia yang cukup membuat pusing. Karena mulai gerimis saya turun untuk duduk di kursi peunumpang dan segera tidur agar tidak semakin mual. Selama 5 jam perjalanan kami lalui dan akhirnya tiba juga waktunya saya menapakkan kaki di pulau Siberut.

Setibanya kami di Sikabaluan yang merupakan kota kecamatan di Siberut Utara, pada siang hari kami langsung mengadakan pelatihan dan koordinasi untuk kegiatan survei di esok harinya. Pelatihan singkat ini dilakukan di kantor Seksi Taman Nasional Siberut dan materinya mengenai metode pengumpulan data dengan point count dengan menghitung suara Greatcall Owa bilou betina serta penggunaan aplikasi penunjang kegiatan survei ini. Setelah sesi pelatihan dan perkenalan selesai, kami langsung membagi tim jadi 3 dan saya masuk di tim Bojakan 2 yang akan survei ke arah hutan di sekitar sungai Belingken. Hari ini kami tutup dengan packing peralatan, logistik dan perlengkapan pribadi dan dilanjutkan dengan tidur.

burung kehicap ranting

 Rabu 22 April 2026, pukul 10.00 wib kami berangkat mengarungi sungai Sikabaluan menuju  desa Bojakan ditemani birunya langit tanpa polusi dan hembusan sepoi yang sejuk. Hijaunya pohon-pohon hutan ditepi sungai dengan deru mesin 50 cc mendorong sampan kayu utuh membuat suasana jadi membuat saya terlelap di atas sampan. Kami sempat sandar di tepi sungai yang tanahnya berlumpur untuk makan siang setakah 3 jam perjalanan. Di lokasi ini 1 sampan yang membawa tim Bekemen berpisah dengan kami 2 sampan tim Bojakan. Semakin menuju hulu air sungai semakin dangkal yang membuat mesin pompong bekerja keras yang akhirnya jebol mesinnya. Peristiwa ini menambah pengalaman baru untukku karena mendorong sampan di rintik gerimis syahdu, untungnya perjalanan tinggal 500 Meter lagi. Dibantu supir yang menggunakan sebilah bambu untuk mendorong pompong ketika melewati ‘kedungan’, setelah 5 jam perjalanan tibalah kami di Desa Bojakan. Kami menginap 1 malam di desa untuk istirahat dan koordinasi untuk esoknya kami mulai perjalanan lagi menuju site.

Kamis pagi selepas sarapan dengan pompong baru milik warga lokal dengan kernetnya, saya, Pak Ila, Bang Erkanus dan Mas Ari  kembali mengarungi sungai. Kali ini menyusuri sungai Belingken menujuk titik koordinat survei kami. Dangkalnya arus sungai ini sungguh menantang karena membuat kami harus menguras tenaga ekstra. Pompong dengan logistik 5 hari survei harus kami dorong sepanjang kira-kira 1,5 KM. Sampai dihulu kami memutuskan untuk beristirahat dan makan siang di pondok ternak babi tepi sungai. Setelah survei bukit target ‘LPS’ akhirnya kami putuskan untuk camp di pondok babi ini. Sebenarnya saya agak kurang nyaman dengan bau sagu busuk sisa pakan ternak bercampur bau kotoran babi. Namun demi kelancaran survei saya harus melawan shock culture pertama saya ini, mohon dimaklumi di Mendolo tidak ada orang pelihara babi ‘hehe’. Malam pertama mencoba terbiasa dengan aroma ternak ini saya rebahan dan mendengar cerita lokal tentang kepercayaan pada pohon hutan yang mempunyai roh nenek moyang dan pantangan yang tidak boleh dilakukan selama di hutan.  Saya merasa survei ini saya akan mendapat banyak cerita budaya Mentawai dari yang magis hingga yang logis ‘hehe’.

di atas pompong alat transportasi utama di siberut

Pagi hari Jumat 24 April 2026, sebelum matahari terbit kami harus berjalan menuju titik ‘LPS’ yang berjarak 700 M dari camp karena hari ini adalah hari pertama kami mengambil data. Sesuai cerita survei sebelumnya jam 5.45 morning call terdengar dari beberapa dan kami mulai mencatatnya sesuai prosedur. Namun sayangnya kami tidak ada satupun greatcall yang terdengar dari LPS kami hingga jam 10.00.  Waktu tersebut adalah waktu terakhir pengambilan suara sehingga kami harus kembali ke camp untuk sarapan bagi tim Bilou maupun tim babi di bawahnya hehe. Seperti biasa saya melewati malam dengan cerita-cerita kearifan lokal sambil berjuang menghadapi nyamuk dan agas.

Hari kedua survei mungkin adalah hari keberuntungan kedua saya setelah bertemu Habib Syeikh di bandara pada saat saya berangkat kali ini saya bisa melihat Owa Bilou. Kira-kira arah 16° dari LPS  dengan jarak 400 M, 3 individu terlihat berpindah dari pohon ke pohon dengan cepat sehingga kami tidak sempat mendokumentasikan momen ini. Hari ini saya pulang menuju camp dengan gembira. Sayangnya sampai di pondok, tim kami baru sadar bahwa kami mulai kehabisan logistik. Untuk mengatasi hal itu, memanfaatkan keberuntungan saya, Alhamdulillah saya bisa menambah lauk dengan memancing ikan dan mencari udang untuk semua orang.

Lanjut cerita dihari ke-tiga, ternyata pak Erkanus lupa membawa mie instan yang sudah dibeli untuk tim sehingga saat ini tim kami diliputi kegalauan  bahan pangan yang sudah menipis. Untungnya setelah menunggu 2 hari akhirnya kami bisa mencatatkan suara Greatcall yang membuat kami merasa kerja keras ini tidak sia-sia. Walaupun ketika sampai pondok saya galau lagi karena stok lauk yang menipis dan pas mancing dapatnya ya ikan kecil. Sekembalinya saya dari mancing, di pondok ternyata ternyata teman-teman lokal sudah menyembelih babi ternak kecil untuk merayakan data yang kami dapat katanya, aslinya ya karena lauk sudah habis hehe. Agar semua senang, karena saya muslim saya goreng ikan hasil mancing tadi dan lanjut makan malam bersama.

Senin 27 April 2026 adalah hari terakhir kami survei di titik ini. Gerimis di pagi hari dan cuaca yang agak mendung mungkin membuat Bilou tidak berbunyi di hari ini. Namun mengingat hari ini adalah hari terakhir di hutan Bojakan kami tetap menjaga semangat untuk menyelesaikan survei ini. Sebelum pulang dari pondok kami mengisi tenaga dengan sisa daging babi dan ikan goreng untuk saya. Hal ini karena kami harus berjalan kaki selama 2 jam terlebih dahulu akibat air yang semakin dangkal. Sebelum pulang ke Sikabaluan kami bertemu dengan tim Bojakan 2 di desa untuk menyelesaikan urusan administrasi dan lanjut berangkat ke hilir dengan pompon. Perjalan pulang menuju hilir tidak seberat ketika berangkat dan kamipun kembali tiba di kantor Resort hanya dalam 3 jam perjalanan.

Rencana awal kami akan menyeberang pada hari Selasa namun karena tim Swaraowa dan tim survei lokal masih harus rapat terlebih dahulu kami pun memutuskan untuk menyeberang besok di hari Kamis. Karenanya saya manfaatkan waktu untuk menikmati pantai, ombak, sepoi angin dan tentunya sunrise Siberut Utara. Desir tenang ombak, angin sepoi, gumpalan awan bersirat jingga keemasan, dan redup perahu-perahu nelayan jauh di  tengah Samudra membuat saya bersyukur akan harmonisasi suasana hangat ini yang menjadi penutup cerita saya di Siberut. Esok siang saya harus kembali menuju padang dan menginap semalam sebelum kembali ke Jawa.

Tepat sebelum meninggalkan pulau Sumatera saya, mas Adin dan mbak Aolia sempat memotret Lutung kelabu di rawa-rawa depan bandara Minangkabau. Mentawai bagi saya adalah harmonisasi hutan, laut, dan kearifan lokal yang berusaha menuju keseimbangan dengan segala perjuangannya. Menurut saya hutan bagi Masyarakat lokal Mentawai adalah ruang hidup sakral yang harus dihormati. Untuk menutup cerita, saya buatkan jargon tim Bojakan 2 yaitu “Makan babi boleh, primata jangan” catatan besar kecuali untuk acara adat hehe.


No comments:

Post a Comment