![]() |
| bersama tim menggunakan pompong |
oleh : Iman sofiana
Petualangan baru hidup saya kali ini dimulai
dari Stasiun Pekalongan, untuk pertama kali menapakkan kaki menuju tanah
Sumatera dan langsung ke bagian terjauhnya yaitu pulau Mentawai. Tujuan utama kami ke pulau Mentawai adalah untuk
survei populasi Owa bilou dan primata endemik, Mentawai di Kawasan Taman Nasional
Siberut. Bersama dengan staff Swaraowa kami menggunakan kereta api menuju
Jakarta. Sampai di Jakarta pada pagi hari, kami langsung bergegas menuju
bandara Soekarno-hatta untuk terbang ke Padang. Penerbangan kali ini adalah
penerbangan yang pertama pertama bagi saya. Saya merasa campur aduk diantara
tegang dan grogi namun juga penasaran bagaimana rasanya terbang. Bingung,
mungkin adalah kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya yang masih antusias
dengan perjalanan ini.
Rasa tegang seketika sirna ketika datang
rasa takjub dan seru ketika saya melihat pemandangan awan dan langit biru
beriring dengan getar pesawat saat mengudara. Pengalaman terbang kali pertama ini, tak akan
terlupakan untuk saya. Saya cukup terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara pramugari
yang khas dan memberitahukan bahwa pesawat segera landing di bandara Internasinonal
Minangkabau. Tidak terasa ternyata perjalanan secepat itu, hanya dalam 1 jam 50
menit kami sudah tiba di Padang. Sore hari kali ini saya mengantar tim Swaraowa
untuk presentasi di Balai Taman Nasional Siberut yang kami lanjut dengan
menginap semalam di Padang karena esok pagi kami harus menyeberang ke pulau
Mentawai.
![]() |
| burung tepekong |
Setibanya kami di
Sikabaluan yang merupakan kota kecamatan di Siberut Utara, pada siang hari kami
langsung mengadakan pelatihan dan koordinasi untuk kegiatan survei di esok
harinya. Pelatihan singkat ini dilakukan di kantor Seksi Taman Nasional Siberut
dan materinya mengenai metode pengumpulan data dengan point count dengan
menghitung suara Greatcall Owa bilou betina serta penggunaan aplikasi
penunjang kegiatan survei ini. Setelah sesi pelatihan dan perkenalan selesai,
kami langsung membagi tim jadi 3 dan saya masuk di tim Bojakan 2 yang akan
survei ke arah hutan di sekitar sungai Belingken. Hari ini kami tutup dengan packing
peralatan, logistik dan perlengkapan pribadi dan dilanjutkan dengan tidur.
![]() |
| burung kehicap ranting |
Kamis pagi selepas
sarapan dengan pompong baru milik warga lokal dengan kernetnya, saya, Pak Ila,
Bang Erkanus dan Mas Ari kembali
mengarungi sungai. Kali ini menyusuri sungai Belingken menujuk titik koordinat
survei kami. Dangkalnya arus sungai ini sungguh menantang karena membuat kami
harus menguras tenaga ekstra. Pompong dengan logistik 5
hari survei harus kami dorong sepanjang kira-kira 1,5 KM. Sampai dihulu kami
memutuskan untuk beristirahat dan makan siang di pondok ternak babi tepi
sungai. Setelah survei bukit target ‘LPS’ akhirnya kami putuskan untuk camp
di pondok babi ini. Sebenarnya saya agak kurang nyaman dengan bau sagu busuk sisa
pakan ternak bercampur bau kotoran babi. Namun demi kelancaran survei saya
harus melawan shock culture pertama saya ini, mohon dimaklumi di Mendolo
tidak ada orang pelihara babi ‘hehe’. Malam pertama mencoba terbiasa dengan
aroma ternak ini saya rebahan dan mendengar cerita lokal tentang kepercayaan pada
pohon hutan yang mempunyai roh nenek moyang dan pantangan yang tidak boleh
dilakukan selama di hutan. Saya merasa
survei ini saya akan mendapat banyak cerita budaya Mentawai dari yang magis
hingga yang logis ‘hehe’.
![]() |
| di atas pompong alat transportasi utama di siberut |
Pagi hari Jumat 24 April 2026, sebelum
matahari terbit kami harus berjalan menuju titik ‘LPS’ yang berjarak 700 M dari
camp karena hari ini adalah hari pertama kami mengambil data. Sesuai
cerita survei sebelumnya jam 5.45 morning call terdengar dari beberapa
dan kami mulai mencatatnya sesuai prosedur. Namun sayangnya kami tidak ada
satupun greatcall yang terdengar dari LPS kami hingga jam 10.00. Waktu tersebut adalah waktu terakhir
pengambilan suara sehingga kami harus kembali ke camp untuk sarapan bagi
tim Bilou maupun tim babi di bawahnya hehe. Seperti biasa saya melewati malam
dengan cerita-cerita kearifan lokal sambil berjuang menghadapi nyamuk dan agas.
Hari kedua survei mungkin adalah hari
keberuntungan kedua saya setelah bertemu Habib Syeikh di bandara pada saat saya
berangkat kali ini saya bisa melihat Owa Bilou. Kira-kira arah 16° dari LPS dengan jarak 400 M, 3 individu terlihat
berpindah dari pohon ke pohon dengan cepat sehingga kami tidak sempat
mendokumentasikan momen ini. Hari ini saya pulang menuju camp dengan
gembira. Sayangnya sampai di pondok, tim kami baru sadar bahwa kami mulai
kehabisan logistik. Untuk mengatasi hal itu, memanfaatkan keberuntungan saya,
Alhamdulillah saya bisa menambah lauk dengan memancing ikan dan mencari udang untuk
semua orang.
Lanjut cerita dihari ke-tiga, ternyata pak
Erkanus lupa membawa mie instan yang sudah dibeli untuk tim sehingga saat ini
tim kami diliputi kegalauan bahan pangan
yang sudah menipis. Untungnya setelah menunggu 2 hari akhirnya kami bisa
mencatatkan suara Greatcall yang membuat kami merasa kerja keras ini
tidak sia-sia. Walaupun ketika sampai pondok saya galau lagi karena stok lauk
yang menipis dan pas mancing dapatnya ya ikan kecil. Sekembalinya saya dari
mancing, di pondok ternyata ternyata teman-teman lokal sudah menyembelih babi ternak
kecil untuk merayakan data yang kami dapat katanya, aslinya ya karena lauk
sudah habis hehe. Agar semua senang, karena saya muslim saya goreng ikan hasil
mancing tadi dan lanjut makan malam bersama.
Senin 27 April 2026 adalah hari terakhir kami
survei di titik ini. Gerimis di pagi hari dan cuaca yang agak mendung mungkin
membuat Bilou tidak berbunyi di hari ini. Namun mengingat hari ini adalah hari
terakhir di hutan Bojakan kami tetap menjaga semangat untuk menyelesaikan
survei ini. Sebelum pulang
dari pondok kami mengisi tenaga dengan sisa daging babi dan ikan goreng untuk saya.
Hal ini karena kami harus berjalan kaki selama 2 jam terlebih dahulu akibat air
yang semakin dangkal. Sebelum pulang ke Sikabaluan kami bertemu dengan tim
Bojakan 2 di desa untuk menyelesaikan urusan administrasi dan lanjut berangkat
ke hilir dengan pompon. Perjalan pulang menuju hilir tidak seberat ketika
berangkat dan kamipun kembali tiba di kantor Resort hanya dalam 3 jam
perjalanan.
Rencana awal kami
akan menyeberang pada hari Selasa namun karena tim Swaraowa dan tim survei
lokal masih harus rapat terlebih dahulu kami pun memutuskan untuk menyeberang
besok di hari Kamis. Karenanya saya manfaatkan waktu untuk menikmati pantai,
ombak, sepoi angin dan tentunya sunrise Siberut Utara. Desir tenang
ombak, angin sepoi, gumpalan awan bersirat jingga keemasan, dan redup
perahu-perahu nelayan jauh di tengah
Samudra membuat saya bersyukur akan harmonisasi suasana hangat ini yang menjadi
penutup cerita saya di Siberut. Esok siang saya harus kembali menuju padang dan
menginap semalam sebelum kembali ke Jawa.
Tepat sebelum
meninggalkan pulau Sumatera saya, mas Adin dan mbak Aolia sempat memotret
Lutung kelabu di rawa-rawa depan bandara Minangkabau. Mentawai bagi saya adalah
harmonisasi hutan, laut, dan kearifan lokal yang berusaha menuju keseimbangan dengan
segala perjuangannya. Menurut saya hutan bagi Masyarakat lokal Mentawai adalah
ruang hidup sakral yang harus dihormati. Untuk menutup cerita, saya buatkan
jargon tim Bojakan 2 yaitu “Makan babi boleh, primata
jangan” catatan besar kecuali untuk acara adat hehe.
.jpeg)
.jpeg)


No comments:
Post a Comment