![]() |
| Owajawa ( Hylobates moloch) di temukan di habitat kopi naungan hutan alam /rustic shade grown coffee |
Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto
Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap
habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Ada irisan
kepentingan yang nyata antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan keutuhan hutan
sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk primata endemik yang terancam
punah ini. Belum lagi sederet fungsi hutan seperti penjaga siklus air dan
pengikat tanah–pencegah longsor. Melanjutkan upaya untuk menemukan titik
keseimbangan berbagai kepentingan itu, pada tahun ini kami memulai perluasan
skema pengembangan kopi naungan (shade-grown
coffee).
Selama satu bulan terakhir, kami telah melaksanakan
pendataan terhadap komunitas petani kopi. Survei ini dilakukan ke sepuluh
lokasi, meliputi enam desa dekat hutan di tiga kecamatan yang merupakan
penyangga habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono. Pendataan ini melintasi
gradien ekologi maupun sosio-ekonomi yang kontras, mulai dari dataran yang
relatif rendah–kurang lebih 300 mdpl, hingga dataran tinggi di atas 1.500 mdpl,
mulai dari masyarakat petani hutan hingga masyarakat petani sayur–peladang
intensif.
Pendataan ini tidak hanya memotret aspek pembudidayaan
kopi, tetapi juga mencoba menyelami karakteristik masyarakat yang
beranekaragam, mulai dari pola interaksi sosial hingga relasi mereka terhadap
sumber daya hutan secara umum. Metode pendataan dilakukan dengan wawancara
untuk melihat beberapa aspek: model pengelolaan kebun kopi yang dijalankan, potensi
komoditas selain kopi, hingga aktivitas lain yang dilakukan di hutan. Sedangkan
untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai praktik budidaya kopi, kami
melakukan peninjauan langsung ke kebun-kebun kopi yang dikelola masyarakat.

rustic shade-grown coffee /kopi naungan hutan alam
Spektrum
agroforestri kopi
Ada beberapa catatan menarik yang kami rangkum. Dari sisi
produksi kopi, karena variasi ketinggian (altitude) yang cukup ekstrem,
lokasi-lokasi penghasil kopi memiliki profil spesifik. Tujuh lokasi merupakan
penghasil kopi robusta, sedangkan tiga lokasi lainnya dominan menghasilkan kopi
arabika. Jenis kopi excelsa dan liberika juga dijumpai, namun kuantitasnya
relatif kecil.
Kami menemukan ada tiga spektrum utama dalam pola
pembudidayaan kopi di sekitar habitat Owa Jawa, dan sebagai penyederhanaan kami
menyebutnya: kebun campur, agroforest sederhana, dan naungan hutan. Pada
dasarnya, semua tipe merupakan bentuk agroforestri, tetapi berbeda dalam
struktur penyusun dan kompleksitasnya. Pertama, yang dimaksud kebun campur
adalah pembudidayaan kopi yang relatif intensif (dengan penyambungan batang,
pemangkasan, dan kadang pemupukan) dikombinasi dengan jenis-jenis tanaman
komoditi seperti cengkih, durian, alpukat, hingga pisang. Umumnya, praktik ini
dilakukan di kebun milik atau di lahan hutan yang mudah diakses.
![]() |
| Burung paruh kodok, ditemukan di habitat kopi naungan rustic |
Kedua, agroforest sederhana adalah saat tanaman kopi
dikombinasikan dengan tanaman pangan seperti sayur-mayur atau jagung. Praktik
ini jamak dilakukan di dataran tinggi dengan komoditas kopi dari jenis arabika.
Kopi ditanam sebagai tanaman pembatas kebun atau tanaman sela pada
ladang-ladang sayur ataupun tanaman jagung. Terkadang dijumpai pula pohon-pohon
penaung, baik jenis liar maupun komersil sehingga menyerupai kebun campur.
Meskipun demikian, perawatan kopi yang intensif jarang dijumpai pada tipe ini.
Ketiga, tipe naungan hutan (rustic shade) merupakan pembudidayaan kopi yang berada dalam
kawasan hutan dan tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan. Dalam praktik ini,
perlakuan atau perawatan terhadap tanaman-tanaman kopi sangat minim, tanaman
kopi umumnya tumbuh tinggi karena berlomba mendapatkan paparan cahaya matahari
dengan pepohonan hutan. Pada tipe ini, kopi adalah bagian dari strata hutan itu
sendiri. Tipe inilah yang paling ramah terhadap keberadaan satwa liar, termasuk
Owa Jawa. Kami menjumpai beberapa praktik baik dalam pengelolaan kopi naungan
hutan, misalnya: konservasi spesies pohon tertentu sebagai penaung, seperti
pohon bendo (Artocarpus elasticus).
Aktivitas
ekstraktif di desa-desa penghasil kopi

Kopi robusta kebun campur
Selain menggali potensi kopi dari desa-ke desa, kami juga
menelusuri informasi mengenai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan hutan.
Kami menjumpai masih adanya ruang aktivitas ekstraktif, termasuk perburuan
satwa liar. Masalah perburuan ini melibatkan berbagai faktor yang
berkelindan.
Kami mengidentifikasi tiga tipologi utama dalam aktivitas
perburuan berdasarkan motivasi. Pertama, motif ekonomi: sebagian warga
melakukan perburuan sebagai strategi bertahan hidup untuk menutupi celah
pendapatan dari sektor utama terutama pertanian yang belum optimal. Umumnya
menarget spesies burung kicauan yang punya nilai ekonomi. Kedua, motif
rekreasi: sebagian lainnya melihat aktivitas ini sebagai hobi, pengisi waktu
luang, atau pemuasan kegemaran yang telah mengakar dalam keseharian. Ketiga,
motif pengendalian hama: sebagian masyarakat menganggap aktivitas perburuan
sebagai upaya untuk mengendalikan populasi hewan-hewan yang dianggap hama bagi
pertanian, misalnya babi hutan.
Kami mencoba memahami ketiga dimensi ini secara netral
agar bisa menawarkan upaya intervensi yang tidak konfrontatif, melainkan
substitusi nilai yang lebih berkelanjutan. Pendataan ini merupakan inisiasi
untuk program peningkatan kapasitas petani dalam pengolahan kopi sekaligus untuk
upaya konservasi, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas sampingan
pemburu satwa liar. Skema ini bermaksud memperluas dampak dari Coffee and
Primates Project yang telah melahirkan Owa Coffee lebih dari satu dekade lalu.
Titik nol
baru kopi penjaga owa
Kopi arabica di tanam di tepi lahan kebun sayur
Sebagai tindak lanjut, kami akan berkolaborasi dengan
25 petani yang akan menjadi pionir dalam program peningkatan kapasitas selama kurang
lebih satu tahun ke depan. Fokus utama kami adalah membangun komitmen jangka
panjang untuk mengalihkan energi dan sumber daya mereka dari aktivitas berburu
ke pengelolaan Kopi Naungan (shade-grown
coffee). Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga petani
melalui kopi berbasis agroforestry, sekaligus mengurangi aktivitas berburu di
Hutan Petungkriyono.
Tentu tidak ada resep tunggal untuk mengurai
problematika tersebut, tetapi ada beberapa tawaran untuk itu. Strategi
Resiliensi Ekonomi: meningkatkan nilai tambah produk melalui perbaikan
pasca-panen dan diversifikasi tanaman dalam lahan kopi (multi-komoditi).
Targetnya adalah memastikan pendapatan dari kopi naungan lebih stabil dan
menguntungkan ketimbang aktivitas ekstraktif di hutan. Petani didorong untuk
tidak hanya menggantungkan nasib pada kopi sebagai komoditas tunggal, tetapi
mengombinasikan dengan berbagai komoditas lain.
Strategi Prestise dan Keterampilan: mengalihkan aspek
"tantangan" dan "kesenangan". Dari aktivitas berburu yang
menantang ke iklim kompetitif lain yang produktif, misalnya kualitas kopi (specialty coffee). Kesenangan untuk
mengeksplorasi hutan juga membawa peluang untuk melibatkan para petani dalam
pendataan dan pemantauan kehati secara partisipatif dalam bingkai citizen science. Kontribusi kawan-kawan petani
muda di Desa Mendolo dalam skema ini telah membuktikannya.
Tak bisa dimungkiri bahwa konflik satwa liar seringkali
merupakan puncak gunung es dari permasalahan yang lebih besar dan kompleks.
Munculnya gangguan pada tanaman budidaya oleh satwa liar bisa jadi disebabkan
gangguan pada keseimbangan ekosistem: akibat hilangnya peran predator,
misalnya. Strategi Literasi Ekologi (ekoliterasi): diterapkan untuk
meningkatkan pemahaman masyarakat petani terhadap pentingnya menjaga
keseimbangan ekosistem demi keberlanjutan pertanian kita.
Bisa dibilang, pendataan ini menjadi titik nol baru bagi
perjalanan panjang ke depan, di mana upaya gotong royong kita untuk kesejahteraan
petani dan kelestarian habitat Owa Jawa tumbuh secara beriringan dalam satu
lanskap produktif yang inklusif. Mengarusutamakan kopi naungan bukan saja
menjaga resiliensi ekonomi masyarakat petani, tetapi juga menjaga koneksivitas
habitat–prasyarat mutlak bagi kelestarian satwa liar. Artinya, prinsip
inklusivitas berlaku tidak saja kepada sesama manusia, namun diperluas: termasuk
memberi ruang kepada satwa liar. Kami ucapkan terima kasih kepada Air
Asia Foundation atas dukungan terhadap program ini.

