Thursday, September 6, 2018

Kenya : Catatan Perjalanan Owa

Hari pertama sebelum kongres primata dunia ke-27 di kantor PBB, Nairobi dimulai, menjadi kesempatan untuk mengetahui Kenya, khususnya Nairobi, yang terkenal dengan wildlife based tourism-nya,  wisata satwaliar, safari adalah salah satu pendapatan terbesar di Kenya, menurut laporan World Tourism and Travel Kenya, tahun 2016, sektor wisata di Kenya ini memicu banyak rantai ekonomi yang lain, seperti penginapan, makanan, dan transportasi, dengan menyumbang 3.7% dari total GDP Kenya.  Penyumbang devisa terbesar setelah produk produk pertanian. Bisa dikatakan inilah mungkin sebuah Wildlife industry yang sepertinya sudah dengan tata kelola yang lebih dulu berkembang dibanding dengan kita yang sebagai negara kita Indonesia  yang “mega biodiversity”.

Mata uang Kenya Shilling, dengan gambar Gajah Afrika
Kenya, di Benua Afrika bagian Timur, merupakan rumah bagi satwa-satwa iconic,terdapat 60 Taman Nasional dan cagar alam, salah satu safari terbaik di afrika, Taman Nasional Amboseli, Gunung Kilimanjaro, Masai mara yang berbatasan dengan Tanzania sangat populer dengan pemandangan migrasi besar-besaran mamalia besarnya, seperti Gajah, Wildebest, Kerbau, Badak, Jerapah , dan Zebra.

Penasaran dengan salah satu tour yang di tawarkan di Nairobi, saya mencoba mengunjungi Taman Nasional Nairobi, lokasi terdekat dan mudah di jangkau dari pusat kota, di wilayah konservasi negara ini, dapat di jangkau dengan angkutan umum kurang lebih 1 jam dari pusat kota Nairobi, saya menggunakan matatu, sebutan untuk sejenis angkot di Nairobi, ongkosnya 50 KHS sekali jalan, dimulai dari terminal yang menggunakan matatu Jurusan Langata.

Masuk ke gerbang di sambut Ranger yang bersenjata lengkap, dengan senapan mesin otomatis. Tidak heran, karena salah satu  ancaman taman nasional ini adalah para gangster penjahat satwaliar, poacher , pemburu gading gajah, cula badak, dan tentunya bushmeat (untuk daging konsumsi).
Ranger menjelaskan bahwa untuk safari harus menggunakan mobil, dan haru menyewa, kita langsung dcarikan mobil dan guide yang siap disekitar pintu masuk taman nasional, harga yang di tawarkan waktu itu kita sepakati 16000 KHS, kebetulan di bagi berdua dengan teman saya yang dari Republik Ceko, 8000 KHS, masing-masing. Biaya masuk taman Nasiona sendiri 4300 KHS. 

Buku panduan burung tersedia dalam kendaraan safari dan antrian kedaraan.
Antrian pengunjungn yang akan masuk menggunakan mobil sendiri ataupun mobil safari juga terlihat, jam siang hari seperti ini biasanya juga bukan waktu yang bagus untuk melihat satwa-satwa di padang savanna Nairobi, namun guide yang juga sekaligus driver kami menjamin akan bertemu dengan Jerapah, Kerbau liar, Antelope, Badak, Singa. Sekilas saya mengajak driver berbicara tentang satwa-satwa tersebut cukup paham dan bisa menjelaskan paling tidak jumlah perkiraan populasi Jerapah dan Singa. Terlihat juga di dashboard mobil sudah di sediakan buku panduan mamalia taman nasional Nairobi dan buku panduan burung, kamera dengan tele 300 mm, dan juga binocular.
Eland, jenis antelop terbesar di Afrika

Berkeliling menyusuri jalan berdebu di savanna Nairobi, terlihat sekali jalan-jalan ini sangat padat menandakan banyaknya kendaraan yang membawa pengunjugn bersafari. Tour-tour ini biasanya di kelola oleh agen wisata yang ada di kota, bahkan di hampir setiap penginapan di kota juga ada tawaran untuk ikut tour-tour ini.
Zebra dan Harteebest

Alcelaphus buselaphus cokii

Baru beberapa puluh meter dari pintu masuk taman nasional , pandangan pertama begitu mengagumkan  barisan Jerapah masai  (Giraffa camelopardalis tippelskirchii) sedang berbaris dengan leher setinggi pohon, dan Nampak sekali view ini dengan background kota Nairobi di belakang, bahwa taman nasional ini sangat dekat sekali dengan kota.  Kemudian rombongan Antelope Kenya (Alcelaphus buselaphus cokii), Eland  (Taurotragus oryx) yang sedang merumput.
Rumput setinggi kurang lebih 50-100 meter menjadi tempat bersembunyi dan mengintai bagi predator besar di padang ini, kami sempat melihat 3 Singa (Phantera leo melanochaita) sendang berbaring di rerumputan.

Jerapah masaai
Singa terlihat di tengah padang rumput
Warthog (Phacochoerus aethiopicus pallas)

Birding di Taman Naisonal Nairobi juga sangat menyenangkan, Burung-burung juga terlihat disekitar danau buatan yang disediakan untuk tempat minum binatang, African spoon bill (Platalea alba), Plover ( Vanellus spinosus) dan si cantik Grey Corned Crane (Balearica regulorum) dan burung Unta (Struthio camelus), jenis-jenis burung perkotaan juga sering di jumpai Maribou Stork, Gagak, dan Ibis.
Crane, salah satu burung dengan status Endangered di Kenya
African spoon bill
Jenis-jenis Vulture di Taman Nasional Nairobi
Badak putih afrika (Ceratotherium simum), kami beruntung sekali bisa menjumpai sangat dekat dengan kendaraan kami,  ada dua jenis badak disini, yaitu badak hitam dan badak putih, keduanya hampir mirip, namun dapat di bedakan dari mulutnya, badak putih mempunyai mulut yang rata, dan badak hitam agak membentuk lancip bibirnya, hal ini untuk adaptasi dengan pakannya, badak putih lebih cenderung grassing dan badak hitam makan dari daun-dan ranting muda. Sepertinya memang mereka sudah terbiasa dengan pengunjung yang bergerombol dengan kendaraan masing-masing, dan para driver ini kadang juga sangat gesit, memakirkan kendaraan di antara kendaraan yang lagi agar supaya tamu yang di bawanya dapat memotret dengan leluasa.

Badak Putih Afrika

Spot terakhir yang kami kunjungi adalah lokasi pembakaran Gading, salah satu lokasi bersejarah dimana Taman Nasional Nairobi ini pernah mengalami masa krisis dengan para pemburu gading gajah, dan tahun 1989 merupakan awal dari perang dengan para pemburu ini dengan di tangkap dan di sita barang bukti berupa gading gajah sebanyak 15 ton.!!. di perkirakan ada sekitar 3000 gajah terbunuh oleh pemburu waktu itu, untuk di ambil gadingnya. Dan tahun 2016 ternyata juga di tempat ini dibakar lebih banyak lagi 105 ton gading gajah (sekitar 8000 gajah !! Lokasi ini dijadikan monument pembakaran gading,  dan saat intu juga pemerintah Kenya menyatakan melawan dan melarang setiap perburuan gajah untuk gading. Kejahatan global dan saat ini juga masih terjadi, sungguh ancaman serius untuk gajah-gajah di afrika. Pembakaran gajah ini merupakan bentuk perang terhadap kejahatan satwaliar, dan pemerintah kenya dengan tegas bahwa gading gajah dan cula badak bukanlah komoditas komersial.



Monumen, pembakaran gading gajah (bawah), abu dari 15 ton gading yang di bakar (atas-tengah)

Primata, tidak cukup budget saya untuk melihat gorilla salah satu yang paling populer untuk primatewatching di Afrika, namun sempat melihat langsung ketika berkunjung ke Karura forest, hutan di dekat kantor UNEP, setidaknya beberapa primata afrika setidak menjadi daftar tambahan lifer saya yaitu Black and White Colobus (Colobus guereza ), Blue Monkey (Cercopithecus mitis)    and Shyke’s monkey (Cercopithecus albogularis) .
Monyet colobus
Cercopithecus albogularis
Blue monkey

No comments:

Post a Comment