| Ds. Sawahan, Mendolo, Lebakbarang |
oleh : Sidiq Harjanto
Desa Mendolo merupakan
salah satu area kerja prioritas SwaraOwa dalam upaya pelestarian hutan sebagai
habitat penting primata Jawa. Lanskap hutan desa ini menjadi rumah bagi lima
jenis primata sekaligus, yaitu: Owa Jawa, Lutung Jawa, Rekrekan, Monyet
Ekor-Panjang, dan Kukang Jawa. Kehadiran primata-primata ini menandakan
ekosistem hutan yang masih terjaga, di mana keberlangsungannya sangat
bergantung pada harmoni antara tutupan kanopi hutan dan pola aktivitas
masyarakat di sekitarnya.
Bagi masyarakat
setempat, hutan merupakan ruang hidup yang menyimpan potensi ekonomi untuk
menunjang kesejahteraan di masa depan. Selama ini, kopi dan durian telah
menjadi dua komoditas utama yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga
desa. Pengelolaan lahan garapan berbasis agroforestri untuk kedua komoditas
tersebut bisa dimaknai secara positif sebagai upaya menjaga keselarasan antara
pemenuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian hutan habitat primata.
Mengangkat Nilai Tambah Pangan Lokal Berbasis Hutan
Di luar dua komoditas tersebut,
Desa Mendolo menyimpan potensi hasil hutan yang sangat berharga jika
dikembangkan melalui peningkatan nilai tambah (added value). Produk-produk seperti madu klanceng, umbi gadung,
hingga puluhan jenis pangan lokal lainnya memiliki peluang pasar yang
menjanjikan. Dengan sentuhan inovasi olahan dan pengemasan yang tepat, hasil
alam yang dulunya dipandang sebelah mata ini dapat bertransformasi menjadi
sumber pendapatan baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga.
Menangkap peluang
tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip telah mengambil langkah konkret
melalui inisiatif olahan pangan lokal berbasis sumber daya hutan. Sebagai
contoh, para ibu anggota KWT mengolah umbi gadung beracun melalui proses yang
presisi hingga menjadi tepung gadung yang aman dan tahan lama. Bentuk tepung
juga menjamin fleksibilitas bahan pangan ini untuk dijadikan aneka olahan
seperti kue maupun kerupuk.
Selain gadung, mereka
juga mengreasikan aneka sambal hutan khas berbasis kluwek (biji kepayang) dan berbagai
tumbuhan liar. Inisiatif ini tidak hanya mendongkrak nilai jual produk lokal,
tetapi juga menempatkan kaum perempuan sebagai penggerak utama ekonomi kreatif
berbasis konservasi.
![]() |
| mengenalkan produk hasil olahan pangan dari hutan Mendolo |
Konsep Wisata Imersif: Menjual Pengalaman dan Narasi
Hutan
Selain komoditas fisik,
potensi ekonomi Desa Mendolo juga terletak pada potensi jasa lingkungan dan
pengetahuan lokal yang dapat ditawarkan kepada publik. Jasa ekowisata menjadi
peluang besar yang sangat ideal dikembangkan di desa ini, khususnya model
wisata minat khusus yang menekankan pada aspek pengalaman (experience). Para pengunjung tidak sekadar menikmati keasrian alam,
tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan kehidupan desa, mempelajari
cara pengolahan pangan hutan tradisional, hingga mengamati primata di habitat
aslinya secara bertanggung jawab.
Untuk menjembatani
potensi melimpah yang dimiliki Desa Mendolo dengan langkah pengelolaan konkret
di lapangan, diperlukan penguatan kapasitas bagi para penggerak lokal agar
mampu mengelola serta mengemas potensi tersebut secara optimal. Desa Mendolo
tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati dan tradisi pangan hutan yang unik,
tetapi juga memiliki peluang besar dalam pengembangan produk bernilai tambah
serta skema wisata edukasi berbasis pengalaman. Namun, proses transformasi dari
potensi menjadi dampak ekonomi dan konservasi yang nyata membutuhkan perspektif
baru, wawasan pasar, serta keterampilan teknis dalam menyampaikan narasi produk
maupun kawasan di mana produk itu berasal.
Mengenalkan Produk-produk desa Mendolo, Oleh Sri Windriyah, oleh Ketua KWT Brayan Urip ( https://youtube.com/shorts/79yvEAF2Sys?si=iS2EGliNXCvd8bct)
Kunjungan Belajar: Membawa Produk dan Narasi Hutan
Mendolo ke Pasar Beretika
Merespons kebutuhan tersebut, pada tanggal 29-30 Agustus 2026 kami telah mengadakan kegiatan kunjungan belajar dan penjajagan pasar ke dua destinasi strategis di Sleman dan Magelang. Inisiatif ini secara khusus melibatkan pengurus dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip sebagai penggerak ekonomi pangan lokal, perwakilan dari Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo sebagai motor penggerak generasi muda, dan perwakilan perangkat desa. Total 20 orang peserta terlibat dalam kunjungan yang berfokus pada tiga agenda utama: pengembangan produk, penjajagan akses pasar ‘beretika’, dan formulasi konsep wisata edukasi berbasis pengalaman.
![]() |
| Kunjungan ke pasar Sehat Kepayang di Yogyakarta |
| foto bersama di Kebon Pasinaon Living museum |
Konservasi Berbasis Masyarakat melalui Titian Lestari
Melalui kunjungan
belajar ini, KWT Brayanurip, para pemuda perwakilan PPM Mendolo, dan perwakilan
perangkat desa tidak hanya membawa pulang wawasan dan keterampilan baru, tetapi
juga kepercayaan diri untuk mengelola potensi Desa Mendolo secara mandiri.
Sinergi antara inovasi produk pangan lokal, narasi etnobotani yang kuat, dan
konsep wisata edukasi yang imersif bisa menjadi motor penggerak baru yang
memperkuat resiliensi ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian habitat Owa
Jawa secara berkelanjutan.
Menjadi bagian dari
Program Titian Lestari, upaya penguatan kelembagaan lokal, inovasi produk dan
jasa, serta penetrasi pasar beretika selanjutnya bisa dipahami sebagai langkah
konkret dalam mengarusutamakan skema konservasi berbasis masyarakat. Dalam
skema ini, konservasi tidak lagi berhenti pada perlindungan flora-fauna dan
hutan sebagai habitat, melainkan bekerja melalui upaya sistemik untuk menjaga
keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Masyarakat secara mandiri menjadi agen
konservasi aktif bagi lingkungan mereka sendiri.


No comments:
Post a Comment