Tentang Kami

▼

Monday, September 14, 2026

Dari Produk dan Jasa Hutan ke Pasar Beretika: Kunjungan Belajar Masyarakat Mendolo ke Sleman dan Magelang

Ds. Sawahan, Mendolo, Lebakbarang

oleh : Sidiq Harjanto

Desa Mendolo merupakan salah satu area kerja prioritas SwaraOwa dalam upaya pelestarian hutan sebagai habitat penting primata Jawa. Lanskap hutan desa ini menjadi rumah bagi lima jenis primata sekaligus, yaitu: Owa Jawa, Lutung Jawa, Rekrekan, Monyet Ekor-Panjang, dan Kukang Jawa. Kehadiran primata-primata ini menandakan ekosistem hutan yang masih terjaga, di mana keberlangsungannya sangat bergantung pada harmoni antara tutupan kanopi hutan dan pola aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Bagi masyarakat setempat, hutan merupakan ruang hidup yang menyimpan potensi ekonomi untuk menunjang kesejahteraan di masa depan. Selama ini, kopi dan durian telah menjadi dua komoditas utama yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga desa. Pengelolaan lahan garapan berbasis agroforestri untuk kedua komoditas tersebut bisa dimaknai secara positif sebagai upaya menjaga keselarasan antara pemenuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian hutan habitat primata.

Mengangkat Nilai Tambah Pangan Lokal Berbasis Hutan

Di luar dua komoditas tersebut, Desa Mendolo menyimpan potensi hasil hutan yang sangat berharga jika dikembangkan melalui peningkatan nilai tambah (added value). Produk-produk seperti madu klanceng, umbi gadung, hingga puluhan jenis pangan lokal lainnya memiliki peluang pasar yang menjanjikan. Dengan sentuhan inovasi olahan dan pengemasan yang tepat, hasil alam yang dulunya dipandang sebelah mata ini dapat bertransformasi menjadi sumber pendapatan baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga.

Menangkap peluang tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip telah mengambil langkah konkret melalui inisiatif olahan pangan lokal berbasis sumber daya hutan. Sebagai contoh, para ibu anggota KWT mengolah umbi gadung beracun melalui proses yang presisi hingga menjadi tepung gadung yang aman dan tahan lama. Bentuk tepung juga menjamin fleksibilitas bahan pangan ini untuk dijadikan aneka olahan seperti kue maupun kerupuk.

Selain gadung, mereka juga mengreasikan aneka sambal hutan khas berbasis kluwek (biji kepayang) dan berbagai tumbuhan liar. Inisiatif ini tidak hanya mendongkrak nilai jual produk lokal, tetapi juga menempatkan kaum perempuan sebagai penggerak utama ekonomi kreatif berbasis konservasi.

mengenalkan produk hasil olahan pangan dari hutan Mendolo

Konsep Wisata Imersif: Menjual Pengalaman dan Narasi Hutan

Selain komoditas fisik, potensi ekonomi Desa Mendolo juga terletak pada potensi jasa lingkungan dan pengetahuan lokal yang dapat ditawarkan kepada publik. Jasa ekowisata menjadi peluang besar yang sangat ideal dikembangkan di desa ini, khususnya model wisata minat khusus yang menekankan pada aspek pengalaman (experience). Para pengunjung tidak sekadar menikmati keasrian alam, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan kehidupan desa, mempelajari cara pengolahan pangan hutan tradisional, hingga mengamati primata di habitat aslinya secara bertanggung jawab.

Untuk menjembatani potensi melimpah yang dimiliki Desa Mendolo dengan langkah pengelolaan konkret di lapangan, diperlukan penguatan kapasitas bagi para penggerak lokal agar mampu mengelola serta mengemas potensi tersebut secara optimal. Desa Mendolo tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati dan tradisi pangan hutan yang unik, tetapi juga memiliki peluang besar dalam pengembangan produk bernilai tambah serta skema wisata edukasi berbasis pengalaman. Namun, proses transformasi dari potensi menjadi dampak ekonomi dan konservasi yang nyata membutuhkan perspektif baru, wawasan pasar, serta keterampilan teknis dalam menyampaikan narasi produk maupun kawasan di mana produk itu berasal.

Mengenalkan Produk-produk desa Mendolo, Oleh Sri Windriyah, oleh Ketua  KWT Brayan Urip ( https://youtube.com/shorts/79yvEAF2Sys?si=iS2EGliNXCvd8bct) 

Kunjungan Belajar: Membawa Produk dan Narasi Hutan Mendolo ke Pasar Beretika

Merespons kebutuhan tersebut, pada tanggal 29-30 Agustus 2026 kami telah mengadakan kegiatan kunjungan belajar dan penjajagan pasar ke dua destinasi strategis di Sleman dan Magelang. Inisiatif ini secara khusus melibatkan pengurus dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip sebagai penggerak ekonomi pangan lokal, perwakilan dari Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo sebagai motor penggerak generasi muda, dan perwakilan perangkat desa. Total 20 orang peserta terlibat dalam kunjungan yang berfokus pada tiga agenda utama: pengembangan produk, penjajagan akses pasar ‘beretika’, dan formulasi konsep wisata edukasi berbasis pengalaman.

Kunjungan ke pasar Sehat Kepayang di Yogyakarta
Ada dua destinasi yang dikunjungi, masing-masing telah berhasil memperkaya wawasan bagi peserta: Pasar Sehat Kepayang di Sleman, dan Kebon Pasinaon Living Museum di Magelang. Di Pasar Sehat Kepayang, para peserta mendapatkan kesempatan berdiskusi dan praktik langsung mengenai penyajian produk pangan agar semakin menarik dan memberikan narasi yang lengkap bagi produk-produk yang dihasilkan sebagai nilai tambah. Dengan tambahan wawasan dan keterampilan dalam storytelling dan penyajian, diharapkan produk-produk yang telah diinisiasi oleh masyarakat di Desa Mendolo bisa menemukan pasar yang tepat.

foto bersama di Kebon Pasinaon Living museum
Bagi para peserta, kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum telah memberikan perspektif baru mengenai bentuk wisata yang berbasis narasi dan pengalaman langsung yang relevan dengan potensi yang dimiliki Mendolo. Kelompok juga mendapatkan gambaran bagaimana pengelolaan dan pemasaran yang melibatkan warga desa sebagai aktor utama. Model wisata seperti ini bisa memberikan kontribusi nyata ke banyak pihak, baik secara ekonomi maupun dalam bentuk lain seperti peningkatan wawasan dan keterampilan.

Konservasi Berbasis Masyarakat melalui Titian Lestari

Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayanurip, para pemuda perwakilan PPM Mendolo, dan perwakilan perangkat desa tidak hanya membawa pulang wawasan dan keterampilan baru, tetapi juga kepercayaan diri untuk mengelola potensi Desa Mendolo secara mandiri. Sinergi antara inovasi produk pangan lokal, narasi etnobotani yang kuat, dan konsep wisata edukasi yang imersif bisa menjadi motor penggerak baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian habitat Owa Jawa secara berkelanjutan.

Menjadi bagian dari Program Titian Lestari, upaya penguatan kelembagaan lokal, inovasi produk dan jasa, serta penetrasi pasar beretika selanjutnya bisa dipahami sebagai langkah konkret dalam mengarusutamakan skema konservasi berbasis masyarakat. Dalam skema ini, konservasi tidak lagi berhenti pada perlindungan flora-fauna dan hutan sebagai habitat, melainkan bekerja melalui upaya sistemik untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Masyarakat secara mandiri menjadi agen konservasi aktif bagi lingkungan mereka sendiri.

(Baca Selengkapnya kunjungan KWT Brayan Urip di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta dan Living Museum, Kebon Pasinaon Magelang)

No comments:

Post a Comment