Wednesday, December 27, 2023

Biodiversity Monitoring : Forum Kolaboratif Pengelolaan Hutan Petungkriyono

 Oleh : Kurnia Ahmaddin

Pemasangan plang larangan berburu

Salah satu kegiatan dalam rangka memperkuat perlindungan kawasan hutan Petungkriyono, melalui sekema pengelolaan kolaboratif,  kegiatan monitoring keanekaragaman hayati ini telah dilakukan sepanjang tahun 2023.  Kegiatan ini  melibatkan pihak-pihak terkait pengelola, dinas terkait dan perwakilan warga sekitar di wilayah Kecamatan petungkriyono. ( baca disini laporan bulan april 2023) Forum Kolaboratif ini merupakan amanat dari SK Gubernur Jawa Tengah untuk pengelolaan kawasan ekosistem essensial di Petungkriyono. Meskipun usulan KEEnya sepertinya mengalami perubahan dasar hukum, swarowa mengambil peran penting untuk terus mengaktifkan forum kolaborasi yang telah ada untuk memperkuat perlindungan dan komunikasi aktif dengan anggota forum lainnya.

Pemasangan alat rekam pasif untuk monitoring Owa Jawa

Kegiatan monitoring keanekaragaman hayati dilakukan dengan survey jalur hutan dan mengundang pihak terkait untuk bersama-sama melakukan survey, patroli hutan. Kegiatan ini bertujuan selain untuk peningkatan kapasitas juga untuk menginventarisasi keanekaragaman hayati penggunaan camera trap dan alat rekam pasif

Tim monitoring terdiri dari BKSDA, Perhutani dan Warga desa Kayupuring,di dukung oleh tim teknis dan peralatan yang disediakan oleh swaraowa. Kegiatan ini dilakukan setiap bulan dilakukan selama empat hari berturut-turut. Monitoring Owa jawa dilakukan dengan menggunakan metode vocal-count triangulasi, dengan menempatkan 3 kelompok pengamat di tiga titik yang berbeda di hutan Sokokembang. 

Hasil monitoring selama tahun 2023 di sajikan dalam tabel berikut ini: 

Keterangan : Status IUCN Redlis ( NT= near threatened; VU = Vulnerable; EN = Endangered; CR = Critically Endangered.

 Pemasangan papan larangan berburu juga dilakukan sebagai bagian di beberapa lokasi yang masih ada rawan perburuan satwa, terutama jenis burung, namun kegiatan patroli untuk pengamanan  hutan. Pantauan tim swaraowa, kawasan ini masih perlu ditingkatkan karena pada masa-masa tertentu kegiatan perburuan ini dilakukan pada malam hari. 

Pemetaan lokasi perjumpaan dengan satwa khususnya mammalia, menggunakan GPS dan dipetakan dalam peta google maps berikut ini. 

Saturday, December 16, 2023

Integrasi lebah dalam kebun pangan: program budidaya lebah untuk perempuan Desa Mendolo

 oleh : Sidiq Harjanto

ibu-ibu ds Sawahan Mendolo belajar bersama membudidayakan lebah klaneng


Penguatan peran perempuan dalam setiap sendi pembangunan perlu terus didorong. Demikian pula dalam bidang pelestarian lingkungan. Keterlibatan perempuan, berdasarkan banyak pengalaman di banyak negara, terbukti mendongkrak tingkat keberhasilan upaya-upaya pelestarian alam.
Dalam diskursus gender dan konservasi alam dewasa ini, telah muncul apa yang dikenal sebagai ekofeminisme yang menempatkan perempuan dengan nilai-nilai feminitasnya, sebagai poros utama gerakan. Sayangnya, gerakan ini masih belum begitu populer.
Pada skala komunitas, strategi jangka pendek yang bisa diambil adalah dengan cara mendorong keterlibatan perempuan secara terstruktur dan terorganisir. Misalnya bisa dimulai dengan memberi ruang eksistensi dalam bidang-bidang yang identik gender perempuan seperti kuliner, keuangan, dan gizi keluarga. Selanjutnya, perlu transformasi yang lebih radikal dengan peran-peran yang lebih dominan bagi kaum perempuan.
Turut mengarusutamakan upaya penguatan peran perempuan dalam konservasi dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, Swaraowa didukung oleh Mandai Nature memfasilitasi komunitas perempuan di Desa Mendolo untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan produktif. Salah satu program yang menjadi prioritas kami adalah budidaya lebah yang terintegrasi dengan kebun pangan.
Tetragonula laeviceps cocok untuk penyerbuk tanaman pangan


Klanceng menyerbukkan bunga cabai

Kegiatan ini sudah diinisiasi kurang lebih setahun yang lalu. Pada tahun ini, muncul inisiatif untuk membuat sebuah kebun pangan kolektif. Di dalam kebun ini ditanam aneka tanaman pangan, terutama jenis-jenis tumbuhan lokal. Fungsi utama kebun pangan ini sebagai tempat koleksi tumbuhan pangan lokal, dan sebagai media edukasi bagi siapa saja.

Pada 25 November 2023 kami kembali membuat workshop budidaya lebah klanceng bagi kaum perempuan. Selain memperdalam kemampuan teknis budidaya, dalam workshop ini juga bertujuan untuk mencapai pemahaman mengenai nilai tambah dalam integrasi antara kebun pangan dengan budidaya lebah.

Budidaya lebah klanceng bagi kaum perempuan Mendolo ini dimaksudkan untuk beberapa tujuan:

Pertama, budidaya lebah sebagai sumber pendapatan alternatif. Madu menjadi produk bernilai ekonomi yang dihasilkan oleh lebah dan pemasarannya relatif mudah.

Kedua, menghasilkan madu sebagai tambahan gizi keluarga. Tidak hanya menjadi komoditi bernilai ekonomi, madu merupakan nutrisi yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas gizi bagi keluarga petani.

Ketiga, mengoptimalkan peran lebah sebagai agen penyerbuk. Sebagaimana telah disebutkan di atas, budidaya klanceng oleh para ibu di dukuh Sawahan ini dikombinasi dengan tanaman pangan yang sebagian di antaranya sangat terbantu penyerbukannya oleh lebah.

Keempat, klanceng sebagai media edukasi. Lebah klanceng memberi banyak inspirasi dalam hal pengaturan atau pembagian kerja, kepemimpinan, dan pengaturan sumber daya. Para ibu bisa menjadikan klanceng sebagai media edukasi bagi putra-putri mereka.

Perawatan kebun brayan urip ds Sawahan Mendolo
Mak Diyah dan Mak Sutri panen madu klanceng


Lebah yang dipelihara disekitar area pertanian memberikan manfaat berupa jasa penyerbukan. Sementara itu di sisi lain, aneka jenis tanaman menyediakan pakan bagi lebah berupa nektar dan serbuk sari. Tentunya, mengombinasikan lebah dan kebun sayur mengharuskan model pertanian yang bebas bahan kimia yang bisa membunuh para lebah.

Budidaya lebah dan kebun pangan lokal ini harapannya bisa menjadi pintu masuk bagi kaum perempuan Mendolo untuk berpartisipasi aktif dalam gerakan konservasi dan pengelolaan sumber daya alam yang lestari. Desa Mendolo dengan kekayaan hayatinya: lima jenis primata jawa (Lutung, Owa, Rekrekan, Monyet ekorpanjang, dan Kukang), berbagai burung-burung endemik dan langka, anggrek hutan, menuntut keterlibatan semua elemen masyarakat untuk merawat dan mengelolanya secara berkelanjutan.

Friday, December 15, 2023

Rekrekan di Hutan Petungkriyono, Pekalongan

ditulis oleh : Arrayaana Artaka

Rekrekan (Presbytis fredericae)

Hallo dunia, saya Arra, mahasiswi dari Fakultas Kehutanan di Institut Pertanian Malang, kampus kecil yang mungkin jarang diketahui banyak orang. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, skripsi merupakan hal yang wajib hukumnya untuk dituntaskan. Beruntungnya saya mendapatkan beasiswa dari SwaraOwa yang ditujukan untuk penelitian dengan judul “Pemodelan Spasial Kesesuaian Habitat Rekrekan (
Presbytis comata fredericae, Sody 1930) Menggunakan Analisis MaxEnt di Hutan Petungkriyono, KPH Pekalongan Timur”.
          Rekrekan adalah nama lokal untuk jenis monyet pemakan daun ( leaf eating monkeys) Presbytis fredericae,  jenis monyet ini endemik jawa, hanya ada di Pulau Jawa di bagian tengah hingga jawa bagian barat, kalau di jawa barat di kenal dengan nama surili.  Jadi terkait penelitian saya,  “Pemodelan” adalah proses membuat model atau representasi sederhana dari suatu objek atau sistem yang kompleks. Pemodelan digunakan untuk memahami dan memprediksi bagaimana suatu sistem bekerja, dan dapat membantu dalam pengembangan sistem baru atau perbaikan sistem yang sudah ada. Dalam konteks habitat modelling atau kesesesuaian habitat, pemodelan digunakan untuk memetakan distribusi habitat satwa liar, di penelitian saya Rekrekan monyet lutung endemik jawa yang menjadi object penelitian saya. 
Jadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian habitat Rekrekan dan variabel yang berpengaruh terhadap prediksi keberadaan Rekrekan di Hutan Petungkriyono dengan harapan dapat menjadi pertimbangan perlindungan kawasan yang memiliki kesesuaian habitat tinggi bagi Rekrekan. Dalam istilah yang lebih sederhana, habitat modelling adalah cara untuk memprediksi di mana hewan hidup dan bagaimana mereka menggunakan lingkungan mereka. Ilmuwan menggunakan habitat modelling untuk memahami bagaimana spesies yang berbeda berinteraksi dengan lingkungan mereka dan bagaimana mereka mungkin merespons perubahan di habitat mereka.
Sejak tercetusnya judul tersebut, petualangan baru di hidup saya dimulai. Bagi seseorang yang sulit berkomunikasi dengan orang baru sepertiku, hal ini termasuk sebuah tantangan besar, apalagi saya yang bisa dikatakan manja ini kali ini harus melakukanya sendiri, mulai dari penyusunan sekaligus pengantaran proposal ke instansi terkait, sampai melewati berbagai macam jalan berdasarkan panduan GoogleMaps, kurang lebih 425 Km atau 13 Jam perjalanan dengan motor Beat “Pokoloko” milikku.  

Sebagian contoh perjumpaan Rekrekan dan lokasi perjumpaannya di hutan Petungkriyono. (1) Perjumpaan Rekrekan (2) Hutan primer (3). Hutan primer di dekat sungai (4) Hutan primer di dekat jalan (5) Bekas makan Rekrekan, daun muda Bendo (Artocarpus elasticus) (6) Aktivitas istirahat di pohon Mbulu so (Ficus depressa)


Singkat cerita, peneltian saya ini dilakukan kurang lebih selama 3 minggu, terhitung mulai pada tanggal 8 April 2023, bertepatan dengan minggu kedua puasa, kemudian pulang pada tanggal 15 April 2023 dan kembali lagi pada tanggal 7-20 Mei 2023. Ada dua macam data yang saya butuhkan, yaitu data kehadiran Rekrekan berupa titik koordinat perjumpaan rekrekan dan data variabel lingkungan berupa peta. Data perjumpaan Rekrekan dilakukan dengan cara survei langsung menggunakan metode transek untuk mencatat titik koordinat setiap perjumpaan Rekrekan. Ada 8 jalur yang digunakan dalam penelitian ini, dengan panjang jalur pengamatan masing-masing 2 Km. Setiap kelompok Rekrekan yang dijumpai akan diamati, kemudian dicatat waktu Rekrekan terlihat, jarak peneliti dengan Rekrekan, koordinat perjumpaan, jumlah individu dan tipe habitat.
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh 25 titik sebaran kelompok Rekrekan dengan jumlah total individu 80 ekor. Jumlah individu dalam kelompok terdapat 2 ekor sampai 7 ekor, bahkan ada yang teramati hanya 1 ekor (sendiri). Perjumpaan kelompok Rekrekan didapatkan menyebar dengan tipe hutan alam primer, sekunder dan hutan tanaman. Pada hutan sekunder, Rekrekan sering terlihat di pinggir jalan, atau perbatasan perkebunan, sedangkan pada hutan tanaman sering terlihat di hutan pinus, sengon, dan durian. Perjumpaan Rekrekan terbanyak didapatkan di jalur sepanjang jalan , yaitu 5 titik perjumpaan dengan total  perjumpaan sebanyak  17 ekor. Hal ini dikarenakan jalur sepanjang jalan mudah diakses oleh pengamat, dan terdapat banyak pohon yang menjadi pakan Rekrekan. 
Pola persebaran Rekrekan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber pakan, kebutuhan sumber air dan faktor gangguan. Rekrekan merupakan satwa Folivorus yang cenderung menyukai dedaunan, sehingga pada saat pengamatan, perjumpaan kelompok Rekrekan ditemukan berada pada beberapa jenis vegetasi yang menjadi pakan alaminya yaitu: Kayu Afrika (Meisopsis eminii), Beunying (Ficus fistulosa), Saninten (Castanopsistungeureut), Mbulu krandang (Ficus drupacea), Klepu (Nauclea orientalis), Bendo (Artocarpus elasticus), Dao (Drakontomelon dao) Hantap (Sterculia oblongata) Kesowo (Engelhardia serrata) dan Gorang (Trevesia sundaica).
Peta hasil pemodellan kesesuaian habitat Rekrekan di hutan Petungkriyono

Sedangkan untuk pengambilan dan pengolahan data variabel lingkungan dilakukan dengan cara membuat peta yang mewakili karakter habitat Rekrekan. Variabel yang dipilih yaitu ketinggian, kelerengan, Vegetasi, suhu permukaan bumi,. informasinya menggunakan DEMNAS 64 bit yang memiliki resolusi 5-8 m, dan data Citra Landsat-8 TM. Data-data ini di kombinasikan dengan data perjumpaan Rekrekan yang di analisis menggunakan applikasi arcGis. 
Pada penelitian ini mengklasifikasi kesesuaian habitat Rekrekan dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kesesuaian tinggi, kesesuaian sedang dan kesesuaian rendah. Menurut hasil analisa MaxEnt diperoleh bahwa Rekrekan tersebar di Hutan Petungkriyono.
Berdasarkan hasil analisa MaxEnt, kelas kesesuaian habitat Rekrekan di Hutan Petungkriyono, KPH Pekalongan Timur, seluas 2.658 ha (46%) merupakan kategori rendah, seluas 1.562 ha (27%) merupakan kategori sedang dan seluas 1.554 ha (26%) termasuk kategori tinggi.
Dengan adanyya penelitian ini, saya berharap Rekrekan, Hutan petungkriyono beserta ekosistemnya tetap lestari.  Penelitian ini juga menghasilkan deliniasi daerah yang dianggap sesuai bagi Rekrekan. Dimana dengan adanya deliniasi tersebut maka dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola untuk melakukan perlindungan dan pengamanan terhadap lokasi tersebut, sehingga pengelolaan habitat Rekrekan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Adanya deliniasi juga dapat membantu pengelola kawasan Hutan petungkriyono dalam melakukan survei dan monitoring terhadap Rekrekan sehingga jumlah populasi satwa liar tersebut dapat diketahui dengan baik juga untuk upaya peningkatan populasinya.
Akhir kata saya mengucapkan banyak terimakasih kepada SwaraOwa atas saran-masukan dan supportnya baik moral maupun material selama penelitian. Semoga semua makhluk hidup berbahagia menjalani petualangan gilanya masing-masing. Untuk membaca secara lengkap hasil penelitian saya, dapat di unduh di sini.
 
Salam Lestari!

Sunday, December 3, 2023

Kesan dan pesan mereka tentang MSP X

 Oleh : Nawang Wulan, Nur Aini,  Jeffy Imannuel , KP3 Primata Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

 

Berakhirnya MSP X membawa kesan tersendiri bagi peserta yang terlibat didalamnya, berikut ini kesan dan pesan mereka tentang Pelatihan Metode Survei Primata X

Ms. Yan Lu-, sebagai pembicara tamu, mendapat bingkisan
Owa Coffee dari mas Arif Setiawan

Diawali kesan oleh salah satu pemateri MSP X dari Cloud Mountain Conservation Faoundation-China dan Peneliti dan penggiat konservasi Owa Jambul Hitam (Black crested gibbon), Nomascus hainanus, Ms Yan Lu, beliau menyampaikan bahwa memiliki merupakan suatu yang sangat disyukuri dapat mengikuti kegiatan lapangan bersama Swaraowa, apalagi memiliki lokasi stasiun riset yang dikelola sendiri merupakan mimpi bagi Ms Yan Lu kedepannya, menjadi pembicara merupakan pengalaman yang menyenangkan. Bahkan beliau berharap kedepannya akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya mungkin di lokasi pengamatan yang berbeda. Kesan Ms Yan Lu terhadap peserta MSP X ini beliau menyampaikan bahwa mereka memiliki tekad dan kemauan untuk belajar mengenai primata khususnya Owa. Pesan dan harapan juga disampaikan untuk MSP selanjutnya yaitu agar dapat diadakan pelatihan ke China sebagai bentuk pembelajaran culture dan habitat owa selain di Indonesia.

Mas Tutus, dari FFI Kalimantan Barat


Kesan berikutnya disampaikan oleh Tutus Ageng Dwi P. perwakilan dari Flora & Fauna /FFI Kalimantan Barat,  yang kerap disapa Om Tutus selama di MSP X “Sangat menyenangkan sekali, dapat banyak pengalaman yang belum pernah diperoleh sebelumnya, banyak hal-hal yang baru seperti mengenal owa lebih dalam dan teknik survei tentang owa jawa itu sendiri”

Risdo, dari Universitas Palangkaraya


Hal tersebut dibenarkan oleh perwakilan dari Universitas Palangka Raya, Erisdo Ariweis katanya “Menambah wawasan, belajar lebih dalam, menambah teman, bisa lapangan bareng-barenf, tertawa bareng-bareng, mengerjakan tugas akhir bareng-bareng. Semoga msp kedepannya makin maju dan pelestarian tentang owa lebih dikedepankan lagi, terutama di petungkriyono, di Swaraowa”

Vidia dari Biolaska-UIN Yogyakarta

Kesan dan pesan berikutnya disampikan oleh Vidia Fadilah Rosyid dari Biolaska “Sangat menarik karena pelatihan yang pembelajarannya sangat efektif dimana di awal diberikan pemateri terlebih dahulu kemudian praktik dan melanjutkan untuk melakukan analisis data. Menurut saya ga akan mendapat pengalaman ini di tempat praktik owa lain/ konservasi owa lain. Harapannya kegiatan ini akan tetap ada dan semoga lebih baik lagi, ditingkatkan, pembaruan analisis data dan teknik bisa ada. Mungkin ada teknik/ metode lain yang dapat diterapkan di konservasi owa. Harapannya ada pembaruan di kegiatan ini”

Kang Eman- Baraya Sanggabuana

Kesan selanjutnya disampaikan oleh Kang Eman (begitu beliau akrab disapa) perwakilan dari Baraya Sanggabuana “Sangat senang terutama cuaca disini masih asri sekali dari di tempat saya tinggal, suhunya dingin. Untuk materi cukup puas dengan yang disampaikan. Menambah pengalaman, sharing bersama dengan peneliti-peneliti dari luar Jawa. Mendapatkan teman baru dari Aceh, Sumatera, Kalimantan. Itu menjadi referensi untuk saya mendapatkan banyak ilmu baru. Sebelumnya belum mengerti bagaimana teknik mengamati owa jawa, setelah pelaksanaan kegiatan ini bisa kemudian diterapkan pada agenda kegiatan saya di sekitar tempat tinggal"

Hidayatullah -Universitas Global Mandiri-Palembang


Kesan lain disampaikan oleh Hidayatullah perwakilan dari Universitas Indo Global Mandiri - Palembang, bahwa ini adalah pengalaman pertama kalinya mengikuti pelatihan survei owa, bahkan Hidayatullah sendiri sebelumnya belum mengetahui tentang owa jawa sehingga selesai kegiatan MSP X semakin menguatkan keinginannya untuk mempelajari owa jawa bahkan primata lainnya.

Seprianus dari Mentawai


Begitu juga bagi Seprianus perwakilan peserta dari Mentawai “Semoga kedepannya MSP bisa dijalankan setiap tahun. Sangat berterima kasih. Sangat bersemangat mengikuti MSP dan sangat hepiii”

Fatimah -Universitas Andalas, Padang Sumatera Barat


Pesan lain disampaikan oleh Fatimah dari Museum Zoologi, Universitas Andalas  “Bersyukur bergabung dalam pelatihan MSP X. Bisa bertemu teman dari berbagai wilayah habitat owa, Aceh, Medan, Jambi, Palembang, dan berkumpul disini bisa sharing dari berbagai habitat owa lainnya. Kita disini belajar tentang pelatihan, metode, dan analisis terbaru seperti bioakustik dan triangulasi menggunakan Google maps pro, arcgis. 

"MSP X , LESTARI ALAMKU, LESTARI OWAKU “

Masing-masing peserta memiliki kesan dan pesannya masing-masing. Kami saling bertukar cerita tentang owa, mengenal satu sama lain dari berbagai wilayah yang berbeda, bekerja sama dalam tim yang luar biasa, serta bersama-sama dalam petualangan yang hebat!

 

Saturday, December 2, 2023

Pelatihan Metode Survei Primata ke 10 Tahun 2023 : Representasi 9 Spesies Owa Di Indonesia

 Oleh : Nawang Wulan, Nur Aini, dan Jeffy Immanuel, KP3 Primata Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Foto Bersama pelatihan MSP X tahun 2023


Pada tanggal 23-26 November 2023 rangkaian Pelatihan Metode Survei Primata (MSP) X Tahun 2023 telah terlaksana, berlokasi di Hutan Sokokembang, Petungkriyono, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah. MSP merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Swaraowa bekerja sama dengan Kelompok Pengaman, Peneliti, dan Pemerhati Primata Universitas Gadjah Mada. MSP X kali menghadirkan peserta dari hampir dari seluruh penjuru Indonesia berjumlah 15 orang dari berbagai Universitas, Organisasi/Komunitas, dan BKSDA, mulai dari Pulau Sumatera (Jambi, Palembang, Mentawai, Aceh, Jambi, Padang, dan Palembang), Jawa dan Kalimantan, hal ini sebagai bentuk perwakilan dari kehadiran 9 spesies Owa yang ada di Indonesia. Kesuksesan MSP X di dukung oleh Arcus Foundation, Chances for Nature, Fort Wayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, serta Owa Coffee.

Sebelum berangkat ke lokasi penelitian, untuk mengecek kesiapan dan alur keberangkatan peserta dilakukan Technical Meeting via Zoom Meeting pada tanggal 19 November 2023, dalam meeting dijabarkan rundown acara, barang bawaan, dan alur keberangkatan. Pada tanggal 21 November 2023 peserta berangkat secara serentak dari asal daerah masing-masing yang kemudian di lakukan penjemputan di Pasar Doro oleh tim MSP yang terbagi dalam 2 kloter.

Hari pertama pada tanggal 22 November kegiatan diawali dengan registrasi dari perwakilan Universitas yaitu Universitas Indo Global Mandiri Palembang, Universitas Riau, Universitas Palangka Raya, Universitas Mulawarman, Universitas Gadjah Mada, ST. Ilmu Kehutanan Pantekulu, Universitas Andalas, perwakilan lembaga Baraya Sanggabuana, Fauna & Flora, PT. Restorasi  Ekosistem Indonesia, Biolaska, OIC, Mentawai, Biologi Society Purwokerto, dan BKSDA bersamaan dengan pembagian merchandise kegiatan kepada peserta. Malam harinya, peserta dan panitia kegiatan saling memperkenalkan diri satu per satu sambil berbagi tentang kisah owa dari daerahnya masing-masing serta kegiatan konservasi pelestarian owa atau primata lain yang dilakukan. Malam ini menambahkan kesan keakraban dan kedekatan.

Pengenalan Program konservasi Owa di Petungkriyono  oleh ketua Yayasan Swaraowa, Arif Setiawan

Keesokan paginya, dimulai dari pembukaan oleh ketua acara MSP X dari Swaraowa Kurnia Ahmaddin yang langsung disambung dengan materi tentang sejarah kegiatan Metode Survey Primata dan pengenalan tentang Yayasan Swaraowa yang menjadi pionir konservasi owa jawa di Hutan Sokokembang, Petungkriyono, oleh ketua Yayasan Swaraowa, Arif Setiawan, dilanjutkan pematerian tentang pengambilan data menggunakan metode vocal count triangulation  dan kesesuaian habitat owa jawa di Pegunungan Dieng yang dibawakan oleh Salmah Widyastuti,  seorang kandidat doktor dari IPB University yang baru saja menyelesaikan sidang promosi doktornya. Metode vocal count triangulation adalah menghitung survei kepadatan ukuran populasi spesies yang mempunyai suara khas. Metode digunakan untuk mengetahui kehadiran dari spesies, koordinat, estimasi area jelajah dan estimasi populasi. 

 

Pematerian metode vocal count triangulation oleh Salmah Widyastuti


Pematerian bioakustik dan pengenalan suara dari owa jawa oleh Nur Aoliya

Setelah istirahat makan siang, peserta kegiatan kembali diperhadapkan dengan materi kedua yaitu bioakustik dan pengenalan suara dari owa jawa yang dipaparkan oleh Nur Aoliya, awardee beasiswa Swaraowa yang sedang menempuh pendidikan magister di IPB University dengan tesis yang membahas tentang topik yang sama, yaitu bioakustik owa jawa. Hawa serius masih memenuhi seisi ruangan karena materi yang diberikan tergolong baru bagi peserta kegiatan walaupun pematerian telah usai, namun panitia kegiatan, Mas Tariyo dan Mas Apen, masuk dan memberikan ice breaking kepada peserta yang juga ditujukan untuk membentuk tiga kelompok untuk kegiatan lapangan esok hari dan lusa. Malamnya, peserta yang telah terbagi menjadi tiga kelompok kembali dikumpulkan untuk mendengarkan pematerian terakhir di hari ini tentang pengambilan data suara dengan alat passive voice recorder SM4 yang akan dipraktikkan esok hari oleh Kurnia Ahmaddin dari Swaraowa. Analisis data kehadiran owa jawa dilakukan dengan menggunakan suara great call dari owa jawa betina dengan menggunakan aplikasi Raven Pro.  Hari yang panjang ini ditutup dengan pengarahan peserta untuk kegiatan lapangan oleh panitia kegiatan.

Pemateri tamu Yan Lu, Cloud Mountain Conservation Foundation-China, tentang konservasi owa jambul hitam


  Pada hari ketiga sebagai implementasi dari pengajaran hari sebelumya, dilakukan kegiatan lapangan yang terbagi menjadi 3 Listening Post (LP) yaitu Sawah Cilik dan dua lokasi Penggung. Perjalanan menuju titik listening post dimulai serentak pukul 06.30 WIB dan dilakukan pemasangan passive voice recorder SM4 serta praktek metode vocal count triangulation hingga pukul 10.00 WIB, dalam hal ini dibutuhkan ketenangan serta kefokusan agar dapat mendeteksi kehadiran dari suara owa jawa. Kegiatan hari itu dilanjutkan dengan analisis data populasi dengan google maps pro dari metode vocal count triangulation yang disambung oleh pematerian dari Cloud Mountain Consevation Faoundation-China dan Peneliti dan penggiat konservasi Owa Jambul Hitam (Black crested gibbon), Nomascus hainanus, Ms Yan Lu yang bertemakan Konservasi Owa di China.

Pengenalan alat rekam pasive untuk monitoring owa

Ms. Yan Lu, ikut bersama mendampingi peserta di Listening post

Pada kegiatan lapangan hari kedua dilakukan kembali pengamatan dengan metode vocal count triangulation dan pelepasan alat passive voice recorder SM4 yang dilanjutkan dengan analisis populasi dan data vocal owa jawa yang didapat pada hari itu. Untuk mengetahui hasil analisis setiap kelompok, dilakukan pembuatan laporan yang kemudian dipresentasikan ke esokan harinya dalam bentuk Power Point. Hari itu kegiatan cukup padat tetapi peserta dapat melaluinya dengan baik dan penuh canda tawa.

Tibalah peserta pada hari terakhir kegiatan MSP X ini. Hari ini peserta diajak untuk bersenang-senang dengan berkeliling melakukan primate watching dan kunjungan ke tempat budidaya lebah madu yang dibina oleh Swaraowa. Untuk menuju lokasi pengamatan primata peserta menggunakan kendaraan khusus Petungkriyono yaitu  Doplak. Dalam primate watching peserta tidak hanya dapat melihat owa jawa namun hari itu terlihat pula lutung jawa (Rachypithecus auratus), rekrekan (Presbytis comata) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).  Perjalanan dilanjutkan menuju tempat budidaya lebah madu Hoyo Madu milik Berkah Farm Pak Cahyono, tempat budidaya lebah madu ini merupakan binaan dari yayasan Swaraowa yang berlokasi dihabitat owa jawa di Desa Petungkriyono, dalam kunjungan ini dikenalkan berbagai produk madu murni dan koleksi madu dari masa kemasa. Setibanya di stasiun riset kegiatan dilanjutkan dengan presentasi masing-masing kelompok listening post, dan sesuai tradisi MSP sebagai bentuk apresiasi akan disematkan mahkota yang terbuat dari kumpulan snack yang dirancang sedemikian rupa menjadi bentuk mahkota. 


Kunjungan ke pusat budidaya lebah Hoyo Madu Berkah Farm, ds Setipis

Primate watching

Penutupan MSP disampaikan oleh ketua Yayasan Swaraowa, Arif Setiawan. Harapannya selesai dari terlaksananya MSP X tahun 2023 ini dapat mengenalkan teknik dasar survei populasi Owa dengan metode Vocal Count Triangulation dan teknologi bioakustik untuk penelitian dan monitoring Owa, serta membangun dan memperkuat jaringan peneliti dan penggiat di bidang konservasi.

 

Lestari Alamku, Lestari Owaku!